Minggu, 17 Juni 2012

Foto Aborsi Paksa Beredar, Menggemparkan China


Foto yang diposting secara online dan menunjukkan gambar mayat bayi penuh darah, yang ibunya diduga dipaksa untuk mengakhiri kehamilannya pada usia kandungan 7 bulan telah menyebabkan kegemparan di China. Kasus ini menuai polemik dan hujatan atas kebijakan satu anak di Cina.

Kebijakan yang dirancang untuk mengontrol jumlah penduduk negara itu kerap menjadi alasan pembenar untuk aborsi paksa dan sterilisasi dengan kekerasan untuk mengejar kuota kelahiran yang ditetapkan oleh Beijing.Feng Jianmei, 27 tahun, dipukuli oleh para pejabat dan dipaksa untuk menggugurkan kandungan pada tanggal 2 Juni karena keluarganya tidak mampu membayar 40 ribu yuan (US$ 6.300) sebagai ''denda'' untuk memiliki anak kedua.


Narasumber yang tak ingin disebutkan namanya, juga menegaskan keaslian foto yang diposting online, yang menunjukkan Feng di tempat tidur di samping tubuh bayinya yang penuh dengan noda darah.Pengguna internet di China yang marah menyatakan keraguan bahwa Feng telah sepakat untuk aborsi dan bahwa media pemerintah mengutuk prosedur tersebut.

"Siapa yang akan meletakkan bayi berdarah-darah di samping ibunya? Ini yang mereka sebut dilakukan oleh setan Jepang dan Nazi. Tapi ini terjadi secara nyata dan ini bukan berarti hanya satu kasus. Mereka harus dieksekusi," posting salah satu pengguna internet China pada berita postal Netease.com.


Pemerintah Kota Ankang di Provinsi Shaanxi di barat laut Cina, tempat Feng tinggal, telah menunjukkan simpati. Wakil wali kota mengunjungi Feng dan suaminya di rumah sakit, meminta maaf kepada mereka dan mengatakan para pejabat yang terkait kasusnya akan ditindak.

"Hari ini, saya di sini atas nama pemerintah kota untuk bertemu dan menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada Anda. Saya berharap mendapatkan pemahaman Anda," kata Du Shouping, menurut sebuah pernyataan di situs pemerintah kota dan memberi sanksi tiga pejabat tersebut juga meminta maaf kepada seorang wanita yang dipaksa untuk menjalani aborsi.