Trauma Panjang, Dijadikan Objek Seks Aliran Sesat



Dilansir Mirror.co.uk, Kamis (21/6/2012)
Swansea, Inggris, Catrina telah diperkosa dan dilecehkan dengan cara-cara mengerikan yang mungkin tak terbayangkan oleh orang lain. Ia juga dijadikan alat seks untuk ritual sesat.

Mimpi buruk mulai menghantui Catrina Jeffrey saat masih berusia 2 tahun. Di usia yang masih bergolong batita, ia sudah menjadi korban perkosaan ayah tirinya sendiri. Lepas dari sang ayah, Catrina malah seperti masuk kandang singa. Ia menjadi korban pelecehan seksual dari ritual aliran sesat pamannya.

Setiap kali Catrina Jeffrey (36 tahun) melihat seseorang yang memakai salib di leher, ia selalu bergidik ketakutan. Bagi ibu dari 3 anak ini, kalung salib bukanlah lambang keagamaan atau aksesoris fashion. Kalung itu mengingatkannya pada penderitaan panjang di tangan seorang pemimpin aliran sesat.

Catrina masih duduk di sekolah dasar saat ia dikirim untuk tinggal bersama bibi dan pamannya, Elaine (47 tahun) dan Colin Batley (48 tahun). Ia pikir itu adalah saatnya ia menemukan keluarga yang penuh kasih, yang selalu ia rindukan.Tapi ternyata pamannya adalah monster yang suka memperkosa dan melecehkan anak-anak berumur 6 tahun.

Sebagai seorang pemimpin sebuah kelompok pemuja setan, sang paman berulang kali mengundang orang ke rumahnya untuk berhubungan seks dengan Catrina dan mengatakan akan membunuhnya bila buka mulut pada siapa pun.

"Saya hanyalah seorang anak sekolah yang tak bersalah dan orang-orang telah mencuri hidup saya," jelas Catrina Jeffrey, seperti dilansir Mirror.co.uk, Kamis (21/6/2012).

Antara usia 15 hingga 23 tahun, Catrina dipaksa berhubungan seks hingga dengan 12 orang per bulan. Ia menjadi sasaran pernikahan ritual dan memiliki 3 anak. Tapi ia bahkan tak tahu siapa ayah dari anak-anaknya.

Catrina baru berhasil melarikan diri dari ritual setan tersebut pada usia 24 tahun, kemudian dengan berani membuat pengakuan atas tuduhan pamannya di pengadilan.

Sang paman, Colin Batley, dipenjara selama 22 tahun. Tapi kini Catrina masih belum bisa melupakan kejadian mengerikan yang telah dilaluinya."Kadang hal-hal kecil mengingatkan saya pada peristiwa mengerikan itu. Ini tak pernah benar-benar hilang," jelasnya.

Mimpi buruknya bermula ketika ia masih berusia 2 tahun dan ayah tirinya Vincent Barden (70 tahun), mulai melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Ini terjadi hingga ia berusia 12 tahun, tapi Catrina terlalu takut untuk memberitahu ibunya.

Ia hanya menunjukkan ketidaksukaan pada ayah tirinya dan akhirnya ia pun dikirim untuk tinggal bersama paman dan bibinya, yang menjadi wali hukum.

Mereka tampak normal pada awalnya."Saya merasa sangat bersyukur ketika mereka membawa saya. Mereka tampak begitu baik dan penuh kasih. Paman akan mengajak saya ice skating dan kadang piknik dan bermain papan seluncur. Saya merasa bahagia pada minggu-minggu pertama," kenangnya.

Namun kebahagiaan itu mendadak hilang pada minggu ke-6. Suatu malam pamannya menjelaskan bahwa ia adalah anggota aliran sesat dan Catrina diminta untuk bergabung atau harus meninggalkan rumah paman dan bibinya.

Putus asa dan takut kehilangan kehidupan rumah yang tampaknya sempurna, Catrina menyetujui saja kesepakatan tersebut. Ia bahkan tak tahu ritual yang dimaksud pamannya.

Beberapa hari kemudian, Catrina diberitahu oleh Batley bahwa dia perlu diinisiasi (ujian yang harus dijalani orang yang akan menjadi anggota perkumpulan)."Saya segera tahu apa yang dimaksud 'inisiasi'.

Paman Colin memperkosa saya di ruang tamu sementara istri dan anak-anaknya tidur di lantai atas," lanjut Catrina.Ia berpikir akan memberitahu bibinya, tapi sehari setelah pemerkosaan tersebut, ia menyadari bahwa bibinya tahu dan tidak keberatan.

Setelah diperkosa Catrina diikat dengan tali dan salib terbalik. Itulah mengapa simbol itu selalu membuatnya ketakutan.Karena sering diperkosa itu akhirnya ia hamil berkali-kali dan punya anak. 4 bulan setelah melahirkan anak ketiganya, Catrina berusaha melarikan diri ke tempat perlindungan perempuan.

Keberanian Catrina muncul demi melindungi anak-anaknya. Meski tak lahir dari perasaan cinta, Catrina tak pernah menyesal memiliki mereka.

"Ketika saya sampai di tempat perlindungan, saya menyadari saya bebas untuk pertama kalinya dalam hidupku. Tidak ada yang bisa menyakitiku lagi," tuturnya.Perlahan Catrina mulai membangun kembali kehidupannya.

Kemudian, pada berusia 32 tahun, dia bertemu Mark (bukan nama sebenarnya), yang akan menjadi suami pilihannya.Pada Maret 2010, dia mendengar melalui seorang teman bahwa bibi dan pamannya telah ditangkap. Ia pun bersedia memberikan kesaksian dan bukti. Bibi dan pamannya aknirnya dibawa ke pengadilan di Swansea, Inggris.

Batley dihukum karena pelanggaran seks terhadap 35 anak dan orang dewasa, termasuk perkosaan, persetubuhan dua laki-laki, kekerasan seksual dan prostitusi, dan dipenjara selama 22 tahun.Sedangkan Elaine dinyatakan bersalah dengan lima dakwaan, termasuk aktivitas seksual dan tidak senonoh terhadap anak-anak dan dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.

Catrina pun membuat laporan atas ayah tirinya, Vincent Barden. Barden mengakui dua tuduhan penyerangan tidak senonoh dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

"Untuk pertama kalinya saya merasa bebas. Saya sangat senang orang-orang jahat berada di penjara karena apa yang mereka lakukan kepada saya. Sekarang saatnya bagi saya untuk memulai hidup dan berhenti menjadi takut," tutupnya.

Terapi Trauma
Menghilangkan trauma pasca pelecehan seksual dan perkosaan memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan seorang psikolog ahli, psikiater atau bahkan terapis seks.

Dampak yang paling nyata adalah si korban jadi takut untuk menjalin hubungan dengan orang lain.Tak hanya itu, korban pelecehan seksual juga bisa mengalami sindrom trauma perkosaan (Rape trauma syndrome atau RTS).

Ini merupakan bentuk trauma psikologis yang dialami oleh korban perkosaan yang terdiri dari gangguan normal fisik, emosi, kognitif, karakter perilaku dan interpersonal, dilansir care.uci.edu.

Dukungan dan jaminan dapat membantu korban menyadari bahwa ia akan melupakan serangan itu, itu hanya salah satu bagian dari pengalaman hidupnya. Keluarga dan orang-orang dekat di sekitarnya memegang peranan penting untuk memulihkan trauma korban perkosaan.